Langsung ke konten utama

PERBEDAAN EPISTEMOLOGI BARAT DAN ISLAM DALAM ASPEK PENGETAHUAN, AGAMA, DAN SOSIAL BUDAYA

 

UAS FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM

NAMA            : SHELINA OKTA ADIANIKA

NIM                : 126208202074

KELAS           : TBIO 2C

PERBEDAAN EPISTEMOLOGI BARAT DAN ISLAM DALAM ASPEK PENGETAHUAN, AGAMA, DAN SOSIAL BUDAYA

Secara terminologi filsafat berasal dari kata dalam bahasa Inggris philo dan sophos. Philo berarti cinta, dan shopos berarti ilmu atau hikmah. Pendapat ini kebanyakan dinyatakan oleh penulis berbahasa Inggris, seperti Louis O. Kattsoff. Pendapat lain menyatakan bahwa filsafat berasal dari bahasa Yunani yang masuk dan digunakan sebagai bahasa Arab, yaitu berasal dari kata philosophia. Philo berarti cinta, sedangkan sophia berarti hikmah. Pendapat kedua ini dikemukakan oleh tokoh filsafat Islam, Al-Farabi (w. 950 M). Namun demikian, meskipun kata filsafat berasal dari Yunani, bukan berarti orang Yunani Kuno adalah perintis pertama pemikiran filsafat di dunia. Sebelum Yunani Kuno ada negara lain seperti Mesir, Cina, dan India yang sudah lama mempunyai tradisi filsafat, meskipun mereka tidak menggunakan kata philosophia untuk maksud yang sama.

Sebagai langkah awal untuk mememahami makna filsafat pendidikan Islam, bisa dipahami pula bawa filsafat pendidikan Islam adalah filsafat pendidikan yang sesuai dengan Islam, sedangkan filsafat pendidikan sendiri menurut Dr. Muhammad an-Najihi bermakna penerapan perspektif dan metode filsafat dalam pendidikan. Atau bisa juga dipahami bahwa filsafat pendidikan Islam adalah filsafat tentang pendidikan Islam. Dalam kaitan ini, Ali Khalil Abu Al-Ainain dalam Falsafah al-Tarbiyah al-Islamiyyah fi al-Qur’an al-Karim sebagaimana teruraikan dalam bukunya Toto Suharto, Filsafat Pendidikan Islam menyebutkan bahwa untuk mengemukakan pengertian pendidikan Islam lebih baik dikemukakan terlebih dahulu karakteristik pendidikan Islam, yakni : (1) pendidikan Islam mencakup semua aspek kehidupan manusia, baik berupa aspek fisik, mental, akidah, akhlak, emosional, estetika, maupun sosial; (2) pendidikan Islam bermaksud meraih kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat secara seimbang dan sama; (3) pendidikan Islam bermaksud mengembangkan semua aktivitas manusia dalam interaksinya dengan orang lain, dengan menerapkan prinsip integritas dan keseimbangan; (4) pendidikan Islam dilaksanakan secara kontinu dan terus- menerus tanpa batas waktu, mulai dari proses pembentukan janin dalam rahim sang ibu hingga meninggal dunia; dan (5) pendidikan Islam melalui prinsip integritas, universal, dan keseimbangan, bermaksud mencetak manusia yang memerhatikan nasibnya di dunia dan akhirat.

Selain itu, Achmadi memberikan pengertian pendidikan Islam sebagai segala usaha untuk memelihara dan mengembangkan fitrah manusia serta sumber daya manusia yang ada padanya menuju terbentuknya manusia seutuhnya (insan kamil) sesuai dengan norma Islam.

Dari beberapa definisi tersebut dapat disimpulkan, filsafat pendidikan Islam merupakan kajian filosofis mengenai berbagai masalah pendidikan yang berlandaskan ajaran Islam. Kajian filosofis yang digunakan filsafat pendidikan Islam mengandung arti bahwa filsafat pendidikan Islam itu merupakan pemikiran secara mendalam, sistematik, radikal, dan universal dalam rangka mencari kebenaran, inti atau hakikat pendidikan Islam. Filsafat pendidikan Islam dengan demikian senantiasa mengkaji filsafat pendidikan yang berlandaskan norma Islam.

Adanya pemikiran-pemikiran tentang filsafat memunculkan berbagai percabangan dari filsafat itu sendiri. Adapun percabangan filsafat yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Dalam hal ini penulis akan mengkaji tentang perbedaan epistemologi barat dan islam dilihat dari perbedaan pengetahuan, agama, sosial dan budaya. Dengan gambaran yang sederhana dapat dikatakan ada sesuatu yang perlu dipikirkan (ontologi), lalu dicarikan cara-cara memikirkannya (epistemologi), kemudian muncul hasil pemikiran yang memberikan suatu manfaat atau kegunaan (aksiologi).

Epistemologi merupakan salah satu cabang filsafat yang pengkajiannya hampir mencakup isi keseluruhan dari filsafat itu sendiri. Epistemologi berasal dari kata episteme yang berarti pengetahuan dan logos yang berarti ilmu. Jadi epistemologi dapat diartiakn sebagai ilmu yang membahas tentang pengetahuan dan cara memperolehnya. Epistemologi disebut juga teori pengetahuan, yakni cabang filsafat yang membicarakan tentang cara memperoleh pengetahuan, hakikat pengetahuan dan sumber pengetahuan. Dengan kata lain, epistemologi adalah suatu cabang filsafat yang menyoroti atau membahas tentang tata cara, teknik, atau prosedur mendapatkan ilmu dan keilmuan. Tata cara, teknik, atau prosedur mendapatkan ilmu dan keilmuan adalah dengan metode non- ilmiah, metode ilmiah, dan metode problem solving.

Dagobert D. Runes, bahwa epistemologi adalah cabang filsafat yang membahas sumber, struktur, metode- metode dan validitas pengetahuan. Sementara Azyumardi Azra menambahkan, bahwa epistemologi sebagai “ilmu yang membahas tentang keaslian, pengertian, struktur, metode dan validitas ilmu pengetahuan”.

Epistemologi dapat diartikan sebagai teori tentang pengetahuan yang dalam Bahasa Inggris dipergunakan istilah theory of know ledge. Istilah epistemologi secara etimologis diartikan sebagai teori pengetahuan yang benar dan dalam Bahasa Indonesia disebut filsafat pengetahuan. Secara terminology epistemologi adalah teori mengenai hakikat ilmu pengetahuan atau ilmu filsafat tentang pengetahuan. Masalah utama dari epistemologi adalah bagaimana cara memperoleh pengetahuan, Sebenarnya seseorang baru dapat dikatakan berpengetahuan apabila telah sanggup menjawab pertanyaan-pertanyaan epistemologi, artinya pertanyaan epistemologi dapat menggambarkan manusia mencintai pengetahuan.

Hal ini menyebabkan eksistensi epistemologi sangat urgen untuk menggambar manusia berpengetahuan yaitu dengan jalan menjawab dan menyelesaikan masalah-masalah yang dipertanyakan dalam epistemologi. Makna pengetahuan dalam epistemologi adalah nilai tahu manusia tentang sesuatu sehingga ia dapat membedakan antara satu ilmu dengan ilmu yang lainnya.

Epistemologi Islam adalah filsafat hukum yang menganalisis hukum Islam secara metodologis dan sistematis, sehingga mendapatkan keterangan yang mendasar atau menganalisis hukum Islam secara ilmiah dengan pendekatan filsafat sebagai alatnya. Sedangkan epistemologi pengetahuan barat lebih bercorak rasional empirik dan memisahkan diri dari hal- hal yang irrasional dan non rasional. Dapat dikatakan bahwa pembentukan epistemologi Barat modern sepenuhnya berakar pada ide-ide filsafat yang berkembang tanpa ada sentuhan corak keagamaan sama sekali. Dalam kaitannya dengan agama dan kehidupan spiritual rohaniah, epistemologi Barat menampakkan diri sebagai epistemologi yang tidak seimbang. Tidak seimbang antara aspek jasmaniah dengan rohaniah, antara material dengan immaterial, antara dunia dengan akhirat, antara rasio dengan jiwa. Demikian juga dalam masalah-masalah agama, epistemologi Barat berusaha menjauhkan diri dari pengaruh dan keterlibatan agama dalam upaya mengembangkan dan menghasilkan pengetahuan.

Dalam filsafat Islam dalam memperoleh suatu kebenaran mengenai ilmu diperlukan adanya metode-metode dalam mengetahui sumber-sumber dari ilmu tersebut. Dalam filsafat Islam terdapat metode-metode, yakni yang pertama ialah Burhani, yakni metode yang berdasarkan pada indra percobaan dan hukum-hukum serta logika. Kemudian ada metode Irfani, dimana melakukan pendekatan pemahaman yang bertumpu pada instrumen pengalaman batin. Ketiga adalah metode Bayani, dimana melakukan pendekatan dengan cara menganalisis teks al-qur’an apakah suatu ilmu berdasarkan al-qur’an telah dibetulkan atau tidak.

Tentunya epistemologi filsafat barat berbeda dengan filsafat Islam di mana filsafat barat berdasarkan pada; yang pertama, kerangka pemikiran yang logis dengan argumentasi yang bersifat konsisten dari pengetahuan sebelumnya. Kedua menjabarkan serta memberikan penalaran hipotesis yang merupakan reduksi dari kerangka pemikiran tersebut. Ketiga melakukan verifikasi terhadap hipotesis tersebut untuk menguji kebenaran pemikiran. Para filsuf pada dasarnya tidak lepas dari orientasi rasio dan indra. Namun, dalam filsafat barat lebih mengedepankan dalam mencari kebenaran melalui indra, di luar itu dilakukan sebagai kebenaran.

Sementara   itu, objek   material   epistemologi   adalah   pengetahuan   itu   sendiri, sedangkan objek    formalnya adalah  hakikat  pengetahuan.  Dalam pengetahuan harus  ada subjek yaitu keasadaran untuk berusaha mengetahui sesuatu dan objek yaitu suatu keadaan yang dihadapisebagai sesuatuyang ingin diketahui.

Epistemologi mempunyai tempat yang cukup sentral dalam bangunan filsafat ilmu, sehingga epistemologi telah menarik perhatian para pemikir baik di Barat maupun di bangunan pemikiran Islam modern. Pertama, di dunia Barat, epistemologi menjadi suatu disiplin ilmu baru di Eropa yang dipelopori oleh Descartes (1596-1650), dan dikembangkan oleh filosof Leibniz (1646–1716), kemudian disempurnakan oleh John Locke di Inggris. Epistemologi berkembang sejak gagasan renaissance dibangkitkan. Kedua, Permasalahan epistemologi dalam filsafat Islam tidak dibahas secara tersendiri, akan tetapi, begitu banyak persoalan epistemologi dikaji secara meluas dalam pokok-pokok pembahasan filsafat Islam, misalnya dalam pokok kajian tentang jiwa. Begitu pula hal-hal yang berkaitan dengan epistemologi banyak dikaji dalam pembahasan tentang akal, objek akal, akal teoritis dan praktis, wujud pikiran, dan tolok ukur kebenaran dan kekeliruan suatu proposisi. Dalam perkembangan filsafat Islam, epistemologi menjadi suatu bidang disiplin baru ilmu yang mengkaji sejauh mana pengetahuan dan makrifat manusia sesuai dengan hakikat, objek luar, dan realitas eksternal.

Ilmu atau knowledge merupakan sesuatu yang sangat mendasar dalam kehidupan manusia. Namun, dalam pemahaman mengenai sumber dan cara memperoleh ilmu ini terdapat perbedaan, sehingga nantinya menimbulkan ilmu yang bersifat agama dan ilmu yang sifatnya duniawi. Perbedaan ini disebabkan oleh substansi dari ilmu pengetahuan duniawi, yang di identikkan kepada ilmu pengetahuan barat-modern, meskipun peradaban barat ini menghasilkan ilmu yang bermanfaat, namun disadari atau tidak ilmu ini juga menyebabkan kerusakan dalam kehidupan manusia khususnya terhadap keyakinan umat Islam.

Jika dilihat dari cakupannya epistemologi meliputi hakikat, keaslian, sumber, struktur, metode, validitas, unsur, macam, tumpuan, batas, sasaran, dasar, pengandaian, kodrat, pertanggungjawaban, dan skope pengetahuan. Jadi, dapat juga dikatakan bahwasanya epistemologi merupakan teori tentang ilmu yang membahas ilmu itu sendiri dan bagaimana cara untuk memperolehnya.

Diskursus tentang epistemologi dikalangan para intelektual Islam maupun Barat pada abad modern ini, seiring lajunya perkembangan science di Barat, menjadi daya tarik tersendiri untuk dikaji dan dikupas tuntas. Sebab, hal ini memunculkan polemik radikal di kalangan mereka tentang, apakah ilmu itu bebas nilai (free value) atau sarat dengan nilai (by product).

Karena ilmu barat-sekuler, tidak dibangun di atas wahyu dan kepercayaan agama, namun berdasarkan tradisi budaya yang diperkuat dengan spekulasi filosofis yang terkait dengan kehidupan sekuler yang memusatkan manusia sebagai makhluk rasional.

Tentu hal di atas, sangat bertolak belakang dengan konsep ilmu yang berlandaskan agama, khusunya agama Islam. Agama Islam merupakan agama yang sangat menghargai ilmu pengetahuan. Banyak ayat Al-Qur’an dan Hadits nabi yang memuji dan memuliakan ilmu serta mengajarkan umatnya untuk menuntut ilmu ke mana saja ia mampu melakukannya dan kapan saja selama hidup di dunia. Seluruh bidang keilmuan boleh dijamah dan dieksplorasi, kecuali Zat Tuhan sendiri yang memang tidak mungkin dijangkau oleh kemampuan manusia, dalam pandangan Islam semua ciptaan Tuhan patut diteliti dan dikaji secara seksama karena semua ciptaan Tuhan adalah tanda-tanda (ayat) Tuhan sendiri. Sehingga diharapkan dengan mengkaji ayat Tuhan tersebut seorang Ilmuwan Muslim akan bertambah keyakinan dan ketakwaannya kepada Allah SWT.

Islam mempunyai pandangan sendiri tentang ilmu pengetahuan dan sumber-sumbernya yang berbeda secara fundamental dengan pandangan barat sekuler. Karena pandangan islam ini bersumber dari doktrin ajaran islam yaitu wahyu dari Allah SWT. Banyak sekali pemikir sekuler yang mengatakan pandangan islam ini sangat dogmatis karna bersumber dari kitab suci yang tidak empiris dan rasionalis lalu apakah pandangan barat dengan menjadikan empirisme dan rasionalisme sebagai sumber ilmu dan pandangan hidup bukanlah hal yang dogmatis juga jadi kita tinggal memilih apakah mengikuti dogma Tuhan atau meninggalkan dogma Tuhan dan berpindah kepada dogma setan. Adapun Sumber- sumber ilmu dalam islam sebagai mana dijelaskan Dinar Dewi Kania dalam buku filsafat ilmu prespektif barat dan islam terdiri dari : (1) wahyu, berupa Al-Quran dan hadist Rasulullah saw., (2) akal dan kalbu, dan (3) indra. Jadi, perbedaan mendasar antara sumber ilmu dalam perspektif islam dan barat adalah islam masih mempercayai wahyu atau bisa disebut juga khabar shadiq (kabar yang benar) sedangkan barat sekuler tidak mempercayai itu.

Manusia sebenarnya pada umumnya percaya saja terhadap suatu berita yang benar tanpa perlu dibuktikan secara empiris contoh seorang anak yang tidak pernah tes DNA tetap percaya bahwa ayah dan ibunya itu tetaplah orang tuanya, begitupun juga khabar shadiq dalam islam kaum muslimin mempercayainya tanpa harus pusing mengkritisinya apalagi mengkritisinya dengan pandangan hidup barat tentu saja ini adalah kesalahan yang sangat fatal karna menyalahi pandangan hidup dalam islam.

Contoh lainnya, seorang empirisme ini juga berpandangan mengenai api itu sifatnya panas, karena ia pernah mengalaminya sendiri dengan cara menyentuh api tersebut serta memperoleh pengalam yang disebut dengan “panas”. Kemudian bagaimana bentuk dari seekor Sapi? Kita juga akan benar-benar mengetahui bentuknya setelah melihatnya secara langsung. Jadi, seluruh pengetahuan yang telah atau sudah dirasakan serta dilihat itu akan disimpan di dalam memori otak kita, dan kemudian akan dikeluarkan kembali pada saat dibuthkan. Dengan demikian, dengan alat inderawi, kita bisa atau dapat memperoleh pengalaman-pengalaman yang tentu akan menjadi pengetahuan kita kelak.

Selain perbedaan pandangan dalam bidang pengetahuan dan agama, epistimologi juga memiliki perbedaan dalam bidang kebudayaan dan peradaban. Istilah kebudayaan dan peradapan itu berbeda tetapi saling berkesinambungan. Kebudayaan adalah kebudayaan adalah seluruh sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dimiliki manusia dengan belajar. Sedangkan yang dimaksud peradaban yaitu sistem sosial yang membantu manusia untuk meningkatkan produktifitasnya di bidang kebudayaan.

Menurut Islam, setiap agama dan falsafah yang ada di dunia ini bebas untuk mengartikulasikan nilai-nilai yang dianutnya. Sebuah peradaban yang menganut cara pandang sekularisme liberal bebas untuk mengartikulasikan nilai-nilai yang ia anut selama artikulasi tersebut tidak mengganggu atau bahkan dipaksakan kepada cara pandang peradaban lain.

Peradaban Islam dibangun atas budaya, bahasa, tradisi, sejarah dan sentralnya yang kental dengan nuansa agama. Memiliki Kesinambungan kultural di kalangan umat Islam dengan berbagai tradisi keagamaan dan segala ragamnya sehingga mampu mempertahankan suatu integritas dalam suatu peradaban. Kesatuan religius dalam umat Islam tidak lain merupakan eksplorasi kesatuan kultural yang lebih luas.

Begitu juga dengan peradaban yang memiliki cara pandang komunisme, Kristen, kapitalisme, konfucianisme, dan lain-lain. Dengan demikian, Islam menolak tesis benturan peradaban (clash of civilization) Samuel Huntington dan the End of History Francis Fukuyama.

Menurut Muhammad Imarah dalam Min Fiqh Al-Muwajahah baina Al-Gharb wa Al-Islam (Kairo: 2003), untuk mengganti falsafah benturan dan hegemoni tersebut Islam menawarkan konsep kompetisi (musabaqah). Konsep tersebut akan mengajarkan perlombaan, kerja sama, dan saling pengertian, bukan hegemoni, benturan, dan perang.

Islam mengajak setiap peradaban yang memiliki cara pandang berbeda untuk membuktikan bahwa cara pandang yang ia anut adalah cara pandang yang terbaik. Benturan biasanya akan melenyapkan kemajemukan. Dalam benturan selalu ada hegemoni. Hegemoni selalu mengarah kepada penjajahan serta kemanunggalan. Segala sesuatu harus melebur, menyatu, mengikuti, dan menyerah kepada yang kuat. Tentu saja hal ini bertentangan dengan demokrasi, HAM, kemajemukan, dan kebebasan yang selama ini sering dikampanyekan oleh orang-orang penganut nilai-nilai liberal.

Bahkan, menurut Imarah, Islam menginginkan agar dunia ini menjadi forum peradaban (al-muntada al-hadhari) yang terdiri dari berbagai agama, falsafah, dan kebudayaan. Islam tidak menginginkan hegemoni tetapi menginginkan pluralitas. Cara pandang Islam terhadap peradaban tersebut akan membentuk pluralitas peradaban. Dalam keadaan tersebut tidak akan ada lagi hegemoni, penjajahan, benturan, dan perang.

Peradaban Islam mengalami kemajuan, karena orang-orang Islam tidak hanya pintar berbuat (menyiarkan Islam), tetapi juga rajin mencari mengkaji pengetahuan. kajian dan pengembangan ilmu pengetahuan yang dilakukan umat Islam terkait dengan proyek penerjemahan secara dramatis karya sastra, filsafat, dan kedokteran, selain itu juga penaklukan secara politik dan kebudayaan di luar Islam. Berbagai cabang ilmu pengetahuan diadaptasi dan diadopsi oleh umat Islam dari logika, fisafat, ilmu eksakta, dan ilmu sosial lain. Peradaban Islam ketika itu bertindak sebagai perantara antara kebudayaan Yunani kuno dan ilmu pengetahuan modern.

Dalam pandangan kebudayaan barat masalah spiritual, rohani adalah masalah pribadi semata, sedangkan dalam islam adalah menjadi tanggung jawab sekelompok umat. Kebudayaan barat menjadikan kehidupan ekonomi sebagai dasarnya dan pola etik didasarkan pula pada kehidupan ekonomi dan tidak menganggap penting kepercayaan  dalam kehidupan umum, sedangkan dalam kebudayaan islam lahir atas dasar rohani keimanan (kepercayaan).

Namun, seiring berjalannya waktu peradaban Islam mengalami kemunduran dan digantikan oleh kebudayaan barat. Hal ini dikarenakan abai terhadap iptek. Sempat mempengaruhi arus kemajuan sains dan teknologi, peradaban Islam perlahan semakin surut dominasinya hingga digantikan zaman Renaisans Barat. Pasang surutnya Islam sebagai peradaban dapat dilihat dari implementasi keimanan (akidah dan akhlak), politik (siyasah), ekonomi (iqtishadiyah), kehidupan sosial (al-hayah al-ijtimaiyyah), dan hubungan antar bangsa dan budaya.

Salah satu penyebab kemunduran Islam dalam pengembangan iptek adalah karena umat Islam meninggalkan pesan-pesan yang diberikan dalam Alquran dan sunah Nabi. Penyebab lainnya adalah karena umat Islam terlibat dalam konflik internal. Dengan kata lain, umat Islam dihalangi oleh umat Islam yang lain. Mereka terlibat dalam pertentangan politik dan ideologis. Untuk menuju pada pengembangan dan kemajuan iptek dalam Islam, hal pertama yang harus dilakukan adalah melakukan evaluasi sekaligus refleksi terhadap apa yang selama ini menjadi faktor kemunduran iptek dalam Islam. Disebabkan jauh dari moral pengetahuan dan ke-Islam-an yang dianjurkan oleh Alquran dan sunah Nabi. Umat islam harus menghilangkan pertentangan-pertentangan ideologis dan politik di antara sesama anak manusia dari berbagai bangsa dan negara. Umat islam harus mengembangkan tradisi berpikir, bebas, dan independen. Tradisi ini bisa memicu orang untuk mencari dan menggali informasi dalam rangka membentuk ilmu pengetahuan yang kita kehendaki. Selain itu islam juga harus mengembangkan sistem pendidikan yang memperkuat pengetahuan dan kemanusiaan. Dengan cara ini, ilmu pengetahuan yang berkembang dalam Islam tak hanya berguna bagi agama kita, tapi juga berguna bagi kemanusiaan.

Suatu peradaban bisa maju dan unggul, meskipun tetap dilandasi oleh agama dan kepercayaan terhadap Tuhan (Allah SWT), dengan cara mengembangkan epistemolog. Karya ini menjelaskan bahwa di dunia Islam epistemologi berkembang dengan berbagai trend dan corak pemikiran yang beragam.

Faktor  sejarah,  wilayah,  dan  etnis  telah  membedakan  Islam  dengan  Barat  dalam melihat suatu   kebenaran.   Padahal,   kebenaran   itu   merupakan   modal   penting   dalam pembicaraan ilmu pengetahuan. Sekalipun  berbeda  dalam  sisi  di  atas,  tetapi  sisi  kesamaan terletak  masing-masing mendasari  titik  empiris  sebagai  patokan  dasar  kebenaran.  Namun, bagi  Islam  hal  itu tidaklah begitu mutlak. Islam mendasari kebenarannya melalui sumber Al-quran dan Sunnah, sedangkan barat mendasari kebenerannya dengan empiris dan rasio.

Sejatinya perbedaan di antara kita dapat membentuk kita dari keterkungkungan hostilitas menuju bentuk korelasi harmonis seta partnership yang saling membangun. Demikian pula dengan perbedaan seharusnya menyadarkan kita dari sikap yang tertutup menuju pandangan yang terbuka dan dari ideologi ekslusif menjadi universal yang lebih inklusif, sehingga peradaban tidak membawa kita ke dalam clash of civilization. Seandainya hal tersebut bisa dilakukan oleh Barat-Kristen dan Timur-Islam, maka stabilitas geopolitik dunia di masa depan akan menjadi lebih harmonis dan ideal.

Hampir seluruh larangan dan perintah dalam al-Qur’an selalu ditunjukkan latar belakang akaliyahnya, sehingga dapat diterima oleh akal sehat manusia. Kemajuan Ilmu Pengetahuan di satu sisi memang berdampak positif yaitu dapat memperbaiki kualitas hidup manusia. Kemajuan ilmu pengetahuan menghasilkan berbagai sarana modern industri, komunikasi, transportasi dan lain-lain, terbukti amat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Akan tetapi di sisi lain, tidak jarang berdampak negatif karena merugikan dan membahayakan kehidupan dan martabat manusia. Di sinilah, peran agama sebagai pedoman hidup menjadi sangat penting untuk dirumuskan kembali dalam rangka untuk mendukung perkembangan ilmu pengetahuan dan juga mencegah atau mengeleminir dampak negatif yang ditimbulkan dari kemajuan ilmupengetahuan.

Sementara budaya mempunyai peranan penting dalam membentuk pola berpikir dan pola pergaulan dalam masyarakat, yang berarti juga membentuk kepribadian dan pola pikir masyarakat. Pengembangan kepribadian memerlukan adanya kebudayaan, dan selanjutnya kebudayaan dapat berkembang melalui kepribadian-kepribadian tersebut. Agama sukar dipisahkan dari budaya karena agama tidak akan dianut oleh umatnya tanpa budaya. Agama tidak tersebar tanpa budaya, begitupun sebaliknya, budaya akan tersesat tanpa agama.

Ilmu pengetahuan, agama dan budaya memang saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya. Agama adalah keyakinan dan pola perilaku yang dimiliki oleh manusia untuk menangani berbagai masalah di alam semesta yang tidak dapat diselesaikan dengan ilmu pengetahuan maupun sistem organisasi sosial. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat mendorong manusia mendayagunakan sumber daya alam lebih efektif dan efisien, bukan saja membantu manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, akan tetapi juga dapat menaikkan kualitas hidup manusia untuk meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan.

Agama dan kebudayaan dapat saling memepengaruhi sebab keduanya adalah nilai dan simbol. Agama adalah simbol ketaatan kepada Tuhan. Demikian pula kebudayaan, agar manusia dapat hidup dilingkungannya. Jadi kebudayaan agama adalah simbol yang mewakili nilai agama. Adapun ilmu tanpa agama buta, agama tanpa ilmu lumpuh. Agama untuk memberi ilmu pengetahuan dan ilmu diperlukan dalam pengamatan agama, karena ibadah yang dilakukan tanpa ilmu pengetahuan akan sia-sia.

Komentar